• Jumat, 30 September 2022

Rusuh Tambang Emas Poboya, Amin Panto: Harus Dicermati Mendalam Apa Akar Masalahnya!

- Selasa, 20 September 2022 | 13:44 WIB
Amin Panto, tokoh masyarakat Tara, Kota Palu. (foto: ist)
Amin Panto, tokoh masyarakat Tara, Kota Palu. (foto: ist)
METRO SULTENG - Rusuh tambang emas Poboya pada Minggu sore (18/9/2022) yang disertai pembakaran alat berat milik PT Adijaya Karya Makmur (AKM) di lokasi tambang, terus menjadi perhatian banyak pihak. 
 
 
Bahkan, Gubernur Sulawesi Tengah Rusdy Mastura sudah meninjau langsung lokasi kejadian sehari setelah peristiwa tersebut. Gubernur meminta dengan tegas agar para pelaku diproses hukum.
 
Menanggapi insiden rusuh tambang emas Poboya, tokoh masyarakat Tara Kota Palu Amin Panto mengatakan, siapa pun pasti menyesalkan kejadian itu. Dan tidak setuju dengan tindakan anarkis, serta menyerahkan urusannya diselesaikan secara hukum.
 
 
Akan tetapi, pinta Amin, harus dipahami juga bahwa tindakan anarkis warga  merupakan akumulasi dari kekesalan mereka terhadap PT CPM dan kontraktornya, yakni PT AKM.
 
Pihak perusahaan selalu mengulur-ulur 
pembuatan kesepakatan bersama serta melanggar kesepakatan warga dan PT AKM, untuk tidak melakukan aktivitas sebelum ada kesepakatan bersama.
 
"Padahal, konsep kesepakatan tersebut sudah ada, namun tidak ditindaklanjuti oleh perusahaaan,"kata Amin kepada wartawan Selasa pagi (20/9/2022).
 
 
Bahkan, perusahaan tetap beraktivitas dan bekerja mempersiapkan produksi emas dengan cara penyiraman dan perendaman. Metode kerja seperti ini diduga menggunakan bahan kimia.
 
Itulah yang menyebabkan sebut Amin, sehingga warga menutup akses jalan ke perusahaan hingga saat ini. Bahkan, sebelum rusuh, perwakilan warga sempat mendatangi langsung PT AKM untuk menyampaikan pemberhentian aktivitas. 
 
 
Malah, menurut Amin, kedatangan warga justru mendapat tantangan dari pihak PT AKM. Perusahaan menyatakan berhak mengolah lahan yang berada dalam areal kontrak karya. Sedangkan warga mengklaim, lokasi yang ditambang PT AKM adalah lahan ulayat masyarakat Poboya.
 
 
"Sebelum rusuh, ada perdebatan mulut sempat terjadi, antara pihak perusahaan dengan warga. Penyebabnya itu tadi, soal status lahan di lokasi tambang," jelas Amin.
 
Karena PT AKM selaku kontraktor PT CPM (pemegang kontrak karya) terus beraktivitas memuat material untuk diproduksi, maka aksi spontan warga tidak bisa dibendung. Warga bertindak anarkis, sehingga alat berat dan kantor jadi sasaran.
 
 
"Saat kejadian, sebagian besar tokoh masyarakat Poboya sedang berada di pertemuan adat se-Sulteng. Ada agenda sidang adat "petangara pegivu" terhadap oknum PT AKM hari itu,"ujar Amin yang juga pengurus Badan Musyawarah Adat (BMA) Sulteng.
 
 
Semua pihak, khususnya pemerintah daerah dan aparat penegak hukum, harus mencermati akar masalah di lokasi tambang emas Poboya. Perlu diketahui secara mendalam, apa pemicu kejadian di lapangan pada Minggu sore itu. 
 
"Apakah kegiatan atau model pengelolaan tambang emas Poboya dengan cara penyiraman dan perendaman yang dilakukan PT AKM dibenarkan secara aturan? Apakah hasil produksi emas tersebut terhitung sebagai hasil produksi emas PT CPM? Ini juga perlu dijawab,"ujar Amin, mantan aktivis lingkungan ini. 
 
 
Selain itu, saat ini dorongan masyarakat Poboya untuk mempertahankan lahan ulayat, masih begitu kuat. Keberadaan kampung tua dan lahan-lahan warga serta ulayat yang berada di areal kontrak karya PT CPM, diminta tetap dipertahankan.
 
"Sebab, terdapat beberapa makam leluhur dan tempat-tempat yang dihormati secara adat dan kebudayaan di lokasi tambang emas Poboya,"tandas Amin. ***
 
 

Editor: Icam Djuhri

Tags

Terkini

X