• Minggu, 27 November 2022

Situasi Memanas, Akses Jalan Menuju PT CPM Diblokade

- Jumat, 9 September 2022 | 06:14 WIB
Amin Panto, tokoh adat sekaligus tokoh masyarakat Poboya. (foto: dok pribadi)
Amin Panto, tokoh adat sekaligus tokoh masyarakat Poboya. (foto: dok pribadi)

METRO SULTENG - Situasi di lokasi tambang emas Poboya, Kota Palu, Sulawesi Tengah, sejak Rabu malam (7/9) hingga Kamis pagi (8/9) dilaporkan tegang. Warga penambang yang beraktivitas di tambang emas Poboya bereaksi setelah polisi melakukan penertiban.

 
Dilaporkan, polisi beberapa kali melepaskan tembakan peringatan ke udara. Bahkan, warga penambang ditembaki dengan gas air mata. 
 
Puncaknya pada Kamis pagi, jalan menuju lokasi tambang emas Poboya dan menuju kantor PT CPM, diblokade warga dan penambang. Mereka menebang pohon serta memanfaatkan batu, kemudian dipakai memblokade jalan akses ke tambang. Akibatnya, kendaraan roda empat dan roda dua tidak bisa melintas. 
 
Warga penambang berkumpul di lokasi tromol setelah polisi melakukan penertiban. (foto: ist)
"Kami bereaksi begini, ada sebabnya. Pihak CPM (PT Citra Palu Minerals) seenaknya mengusir kami. Yang kami tambang ini lahan kami sendiri. Kenapa kami dilarang. Kenapa kami dikatakan illegal,"protes salah seorang warga penambang.
 
 
Menanggapi situasi yang memanas antara PT CPM versus warga penambang, Amin Panto selaku tokoh masyarakat dan lembaga adat Poboya, menyayangkan kondisi ini.  
 
Kata Amin, konflik warga (penambang) dengan PT CPM yang berlarut-larut adalah imbas dari buruknya komunikasi dan relationship perusahaan dengan masyarakat.
 
"PT CPM yang mengantongi izin kontrak karya, seakan-akan merasa sebagai penguasa tunggal pemegang hak pengelolaan dan hak milik atas lahan-lahan yang masuk dalam wilayah kontrak karya. Walaupun pemerintah dan PT CPM mengetahui, kalau dalam wilayah kontrak karya terdapat lahan-lahan warga dan ulayat masyarakat Poboya yang telah dikuasai secara turun temurun,"ungkap Amin.
 
 
Bukti bahwa tanah di dalam lokasi kontrak karya ada tanah warga yakni, adanya pohon atau tanaman produktif sebagai lokasi kebun, juga pekuburan keluarga warga Poboya. Pemilik lahan juga mengantongi bukti penyerahan tanah dari lembaga adat.
 
"Harusnya ada pembebasan lahan dari PT CPM. Bayarkan tanah warga dengan harga yang wajar. Jika ini dipenuhi CPM, situasi akan aman,"jamin Amin. 
 
Ketidakjelasan informasi pembebasan lahan, ditambah dengan proses pembebasan lahan yang dilakukan secara suka-suka oleh perusahaan, justru semakin menambah kesemrawutan jalannya aktivitas pertambangan di Poboya.
 
 
"Sekarang ini, warga tidak mengetahui luasan total lahan yang akan dibebaskan berapa? Siapa saja pemilik lahan yang akan dibebaskan. Siapa-siapa tim perusahaan atau pihak independen yang menangani proses pendataan dan pembebasan lahan. Apa kesepakatan terkait besaran harga lahan. Ini tidak jelas sekarang di Poboya,"kritiknya. 
 
Yang terjadi justru, ada oknum perusahaan bahkan aparat keamanan, mendatangi warga pemilik lahan secara personal. Mereka menawarkan jasa membantu pemilik lahan untuk mendapatkan pembayaran pembebasan lahan
 
Warga penambang emas di Kelurahan Poboya. (foto: ist)
"Bahkan oknum tersebut terkesan menekan, mengancam, bahkan mengintimisasi pemilik lahan untuk menerima harga pembayaran dari perusahaan. Bila tidak, maka lahannya diambil secara cuma-cuma oleh perusahaan atas dasar kontrak karya. Mereka sampaikan bahwa itu tanah negara,"prihatin Amin yang juga aktivis lingkungan ini.
 
 
Penyebab situasi yang kembali memanas di Poboya, diceritakan Amin, karena beberapa hari lalu terjadi kecelakaan warga penambang. Ada yang meninggal dunia.  
 
Adanya musibah itu, membuat pihak kepolisian terpaksa menghentikan aktivitas warga. Polisi melarang pengambilan material tambang dan merobohkan bangunan warga di lokasi tambang, termasuk merobohkan rumah-rumah yang dianggap sebagi hunian penambang di lokasi pertambangan Poboya.
 
"Rabu malam, sekitar pukul 23.00 Wita, aparat kepolisian datang. Polisi menembak warga dengan gas air mata dan membuang tembakan. Ada videonya dengan warga,"cerita Amin. 
 
 
Ada satu warga penambang yang terluka. Dari kejadian inilah, keesokan harinya pukul 07.00 Wita (8/9/2022), secara spontan warga Poboya menutup akses jalan satu-satunya menuju PT CPM.
 
Pohon-pohon di pinggir jalan ditebang dan menutupi jalan. Ada juga batu. Warga bersikeras untuk tidak naik menemui pihak perusahaan. 
 
 
"Cukup sudah kita yang datangi mereka di sana. Sudah berkali-kali kita demo dan kita yang selalu datangi mereka. Sekarang, kita tutup saja jalan ini. Ini jalan milik kita bukan milik perusahaan,"ujar warga ketika mengadu dengan Amin Panto. ***
 

Editor: Icam Djuhri

Tags

Terkini

Karyawan PT IMIP di Morowali Terekam CCTV Diserang OTK

Selasa, 22 November 2022 | 10:19 WIB
X