Ahli Psikologi Forensik : Penggunaan Istilah Persetubuhan dengan Anak oleh Polda Sulawesi Tengah Sudah Tepat

- Selasa, 6 Juni 2023 | 20:34 WIB
Ahli Pskilogi Forensik Dr. Reza Indragiri Amriel, S.Psi., M.Crim
Ahli Pskilogi Forensik Dr. Reza Indragiri Amriel, S.Psi., M.Crim

METRO SULTENG - Kejahatan seksual terhadap Anak Baru Gede (ABG) di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) Sulawesi Tengah, menuai pro kontra dalam penggunaan istilah perkosaan dengan istilah persetubuhan terhadap anak.

Ahli Pskilogi Forensik Dr. Reza Indragiri Amriel, S.Psi., M.Crim ikut angkat bicara. Ia menerangkan ada dua hal yang perlu kita sorot.

Pertama terkait penggunaan istilah persetubuhan dengan anak, karena ini merupakan kasus anak, maka kita tidak punya pilihan mengedepankan undang-undang perlindungan anak sebagai acuan utama. 

“Kalau kita buka sejak halaman pertama hingga halaman akhir, undang-undang perlindungan anak memang tidak ada kata pemerkosaan sama sekali. Yng ada adalah kata persetubuhan dengan anak,” jelas Reza.

Baca Juga: Polda Sulteng Tahan 10 Tersangka Persetubuhan Anak, Dua Pelaku Sempat Lari ke Kalimantan

Lantas dimana kita bisa temukan kata pemerkosaan sebut Reza, pertama kita bisa temukan di dalam undang-undang tindak pidana kekerasan seksual. Persoalannya adalah di dalam undang-undang TPKS, sama sekali tidak ada definisi tentang pemerkosaan, definisi tentang pemerkosaan adanya di dalam KUHP.

Dosen PTIK itu juga menjelaskan, bahwa pemerkosaan menurut KUHP harus disertai dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Jadi bayangkan andaikan ada persetubuhan dengan anak yang tidak disertai dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, maka sesudah pasal pemerkosaan tidak bisa diterapkan. 

“Oleh karena itu, menurut saya terkait dengan penggunaan istilah persetubuhan dengan anak oleh pihak Polda Sulawesi Tengah 100 Persen tepat.” tegasnya.

Baca Juga: Kapolda Sulteng Tepis, Kasus Melibatkan Oknum Brimob, Kades dan Guru bukan Pemerkosaan tapi Persetubuhan anak

Persoalan yang kedua, ujar Reza, terkait dengan kemungkinan adanya kemauan atau keinginan atau kehendak dari korban. Mari kita tinjau dari sudut pandang hukum, dari sudut pandang hukum kita tutup mata terhadap kondisi batin anak, apakah anak mau atau tidak mau, berkehendak atau tidak berkehendak, setuju atau tidak setuju, bersepakat atau tidak bersepakat, tetap saja anak yang maaf anak yang sudah disetubuhi diposisikan sebagai korban.

Sementara pihak yang menyetubuhi anak diposisikan sebagai pelaku, tidak ada kompromi terkait itu dari sudut pandang hukum.

"Sementara dari sudut pandang psikologi, penting bagi kita untuk memahami bahwa subjek yang kita perbincangkan bukanlah balita, subjek yang kita perbincangkan adalah seorang remaja anak berumur 16 tahun yang notabene sudah melewati usia puberitas," ungkap Reza Indragiri.

Baca Juga: Morowali Makin Ngeri, Kali Ini Ditemukan Bayi Hangus Dibakar di Tempat Sampah

Masih ungkap Reza, ketika anak-anak sudah memasuki usia puberitas maka secara umum pada anak-anak tersebut sudah ada ketertarikan, sudah ada keinginan, sudah ada hasrat bahkan tempo-tempo jika tidak terbimbing secara tepat anak akan bisa melakukan eksperimentasi seksual.

Dengan kata lain, pada remaja berusia 16 tahun, sebut Reza, tubuhnya sudah mulai bisa merasakan adanya sensasi-sensasi seksual, sehingga apakah ada kemungkinan bahwa seorang remaja usia 16 tahun memiliki keinginan untuk melakukan aktivitas seksual, dari sudut pandang psikologis kita tidak bisa abaikan itu.

Halaman:

Editor: Subandi Arya

Tags

Terkini

X