Tambak Udang Tradisional Diujung Ketidakpastian, Potensi Terabaikan, Perlu Intervensi

photo author
Reza Parham, Metro Sulteng
- Rabu, 15 April 2026 | 08:05 WIB
Penulis Dr. Hasanuddin sedang berdiskusi dengan salah satu pihak starup yang bergerak di bidang sterilisasi air untuk budidaya berbasis listrik. Foto background: salah satu tambak tradisional di Indonesia. (Foto: IST).
Penulis Dr. Hasanuddin sedang berdiskusi dengan salah satu pihak starup yang bergerak di bidang sterilisasi air untuk budidaya berbasis listrik. Foto background: salah satu tambak tradisional di Indonesia. (Foto: IST).

Baca Juga: 2026 Sinyal Industri Udang Menguat, Perlu Kalibrasi SOP dan Monitoring, Agar mampu Bersaing dan Berkelanjutan

Tabur benur sehat dengan karakter genetik yang jelas jadi faktor krusial. Surveilance pada semua input produksi , terutama benur sudah harus dibangun agar jadi budaya yang mengakar, sekaligus koreksi kepada produsen input produksi.

Sterilisasi air dengan biaya yang lebih murah dan ramah lingkungan tanpa bahan kimia harus ditumbuhkembangkan. Karena mutu air merupakan "jantung kedua" keberhasilan budidaya. Tidak punya arti dan manfaat benur bagus tapi air tidak bermutu.

Sistem budidaya menerapkan model dua step yaitu nursery dan tambak pembesaran atau growout. Kemampuan mitigasi terhadap kemungkinan risiko perlu dibangun. Demikian pula penerapan biosecurity atau menutup pintu masuk penyakit menjadi bagian dari SOP.

Baca Juga: 2026 Bisnis Vaname Masih Seksi, Kualitas Benur, Nursery dan Mutu Udang Jadi Fokus

Dukungan investasi dan modal kerja menjadi pelengkap dari upaya revetalisasi tambak tradisional melalui sejumlah intervensi. Tanpa dukungan pembiayaan, maka semua akan berakhir diwacana.

Perlu role model implementasi revitalisasi tambak udang tradisional yang dirancang secara terukur agar petambak memperoleh kepastian panen, sekaligus menunjang program ketahanan dan kemandirian pangan. (*)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Icam Djuhri

Tags

Rekomendasi

Terkini

X