Fundamental Ekonomi RI Tetap Kokoh di Tengah Tekanan Rupiah, Jadi Peluang Dongkrak Ekspor

photo author
REDAKSI, Metro Sulteng
- Rabu, 8 April 2026 | 16:33 WIB
Ilustrasi uang rupiah pecahan 100 ribu. (foto: IST).
Ilustrasi uang rupiah pecahan 100 ribu. (foto: IST).

METRO SULTENG- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Selasa (7/4) ditutup di level 17.105 per dolar AS. Sementara, pada pagi ini, Rabu (8/4), Rupiah dibuka mengalami penguatan tipis di level 16.985 per dolar AS.

Terkait pergerakan rupiah yang sempat tertekan ini, banyak pasar menilai tidak mencerminkan rapuhnya fundamental ekonomi Indonesia. Tekanan yang terjadi lebih merupakan bagian dari dinamika global yang tengah bergejolak, mulai dari penguatan dolar AS hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia, David Sutyanto, menegaskan bahwa pergerakan rupiah saat ini harus dilihat dalam konteks yang lebih luas.

Menurutnya, penguatan dolar AS terjadi secara menyeluruh terhadap berbagai mata uang dunia, khususnya di negara berkembang, seiring tingginya suku bunga di Amerika Serikat dan meningkatnya kecenderungan investor global mencari aset aman.

Baca Juga: Optimasi Perolehan Angka Kredit Kenaikan Jabatan Akademik Dosen Melalui Konversi KTI

“Tekanan terhadap rupiah bersifat siklikal. Ini bukan semata persoalan domestik, melainkan bagian dari penyesuaian global,” ujarnya, Rabu (8/4).

David menekankan bahwa di tengah tekanan tersebut, kondisi ekonomi Indonesia tetap berada dalam jalur yang solid.

Pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran 5 persen, inflasi terkendali dalam target Bank Indonesia, serta sektor perbankan menunjukkan ketahanan yang kuat dengan permodalan dan likuiditas yang memadai.

Dari sisi eksternal, cadangan devisa Indonesia juga masih berada di level yang sehat, cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor. Dalam laporan Bank Indonesia, cadangan devisa RI pada akhir Maret 2026 tetap tinggi sebesar USD 148,2 miliar.

"Selain itu, neraca perdagangan yang masih mencatat surplus menjadi penopang penting, didorong oleh kinerja ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, CPO, dan nikel," tambah David.

Pandangan senada disampaikan Ekonom Fakhrul Fulvian. Ia melihat pelemahan rupiah saat ini telah memasuki fase overshooting, yakni kondisi ketika nilai tukar bergerak melampaui titik keseimbangan jangka pendek akibat respons berlebihan pasar terhadap tekanan global.

Baca Juga: Ada Pakistan Dibalik Mediasi Genjatan Senjata Iran vs AS-Israel, Trump Angkat Tangan Menyerah Total Asal Selat Hornuz Dibuka

“Pergerakan ini lebih mencerminkan respons pasar terhadap shock global dan rigiditas domestik, bukan perubahan fundamental yang permanen,” jelasnya.

Fakhrul menambahkan, salah satu faktor yang mendorong fenomena ini adalah tertundanya penyesuaian harga domestik, terutama pada komponen yang diatur pemerintah. Dalam kondisi tersebut, nilai tukar menjadi variabel yang lebih cepat menyesuaikan.

Meski demikian, ia menilai langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas sudah tepat. Intervensi di pasar, baik melalui spot maupun instrumen derivatif, dinilai penting untuk meredam volatilitas dan menjaga kepercayaan pasar, meski tidak serta-merta menghilangkan tekanan secara instan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Subandi Arya

Tags

Rekomendasi

Terkini

X