METRO SULTENG- Sejak tahun 2022 peningkatan kasus deman keong di Sulawesi Tengah cukup signifikan yakni dari 0,22 persen menjadi 1,4 persen. Hal ini membuat kekwatiran bagi Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Sulteng I Komang Adi Adi Sudjendra.
Katanya, penanganan deman keong tidak hanya melibatkan Dinas Kesehatan sebagai instansi teknis,tetapi butuh kolaborasi dengan semua pihak.
Baca Juga: Penyakit Demam Keong Landa Sulteng, 256 Orang Telah Terpapar, Ini Pemicunya
"Kami juga butuh dukungan,dari Dinas Pertanian dan Lingkungan hidup maupun pihak nonpemerintahan untuk bersama-sama melakukan penangan cepat dan tepat,"kata Adi belum lama ini, dikutip Republika, Sabtu (18/2/2023).
Terkait soal pengendalian deman keong menggunakan obat praziquantel hal itu merupakan Donasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun menurut
Epidemiolog Kesehatan Ahli Madya Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kemenkes Lusi Leviana, sudah lama pemesanannya hanya pengadaan obat tersebut sangat susah karena belum ada izin edarnya di Indonesia.
Baca Juga: Operasi Tinombala Polda Sulteng Masuk Lokalisasi Tondo Palu, Ini Yang Dilakukan Tim
"Permintaannya sudah sejak akhir tahun 2022 dan pengadaan obat ini cukup susah, karena belum ada izin edarnya di Indonesia," kata dia.
Saat ini, Pemprov Sulteng telah menerima 4000 tablet obat demam keong atau schistosomiasis untuk pengobatan penderita penyakit parasitik kronis di Kabupaten Sigi dan Poso dari Kemenkes RI.
Nantinya, obat deman keong ini akan didistribusikan kembali oleh Kemenkes pada pertengahan tahun 2023 dengan jumlah yang lebih banyak.***