ekonomi

Tambak Udang Tradisional Diujung Ketidakpastian, Potensi Terabaikan, Perlu Intervensi

Rabu, 15 April 2026 | 08:05 WIB
Penulis Dr. Hasanuddin sedang berdiskusi dengan salah satu pihak starup yang bergerak di bidang sterilisasi air untuk budidaya berbasis listrik. Foto background: salah satu tambak tradisional di Indonesia. (Foto: IST).

Oleh: Dr. Hasanuddin Atjo

HAMPIR 83 persen tambak udang vaname masih dikelola secara tradisional (247 ribu dari 300 ribu ha). Selebihnya dikelola menggunakan inovasi dan teknologi modern, yaitu semi intensif, intensif hingga supra intensif.

Meskipun jumlahnya besar, kontribusi tambak tradisional terhadap produksi nasional kian menurun. Diperkirakan saat ini berkisar 30 persen atau 150 ribu ton dari total produksi nasional sebesar 500 ribu ton (Kompilasi data, 2025).

Tambak teknologi tradisional kebanyakan dikelola rakyat di wilayah pesisir dan sejak lama menjadi penopang Ekonomi Keluarga. Produktifitas rendah antara 100 -300 kg/ha/musim tabur (200 - 600 kg/tahun).

Baca Juga: Industri Udang Nasional Masih Tertinggal, Perlu Revitalisasi Tambak Intensif dan Tambak Tradisional ke New Shrimp

Dalam 1 ha tambak ditabur benih udang vanane antara 10.000 hingga 30.000 ekor. Sumber benur umumnya dari hatchery dengan manajemen terbatas sehingga mutunya pas pasan. Hatchery skala besar umumnya melayani pembelian jumlah besar.

Kini ketidakpastian panen jadi ancaman, karena serangan penyakit virus seperti APHND, White Spote dan AHP. Rasa nyaman setelah tabur benih, kini tinggal kenangan karena adanya ancaman itu yang telah menjadi pandemi.

Dahulu dikala umur udang 2 bulan, para petambak udang dibuat "pusing", dikarenakan sebentar lagi panen raya dan mereka bingung apalagi yang akan dibeli. Pada saat ini juga dibuat "pusing", karena barang apalagi yang akan "dilego", untuk membiayai operasional musim tabur berikut.

Sekadar menjaga jaga agar usaha tambak tidak rugi total, mereka saat ini menabur benih udang bersama benih ikan nila atau bandeng yang lebih tahan terhadap goncangan, namun harganya murah dan hasilnya sekedar bertahan.

Baca Juga: Donald Trump Koreksi Tarif Import Udang India, Ancaman Volume Pasok Udang RI, Perlu Pembenahan Daya Saing

Potensi tambak tradisional di wilayah pesisir dan sejumlah permasalahan yang dihadapi, tentunya mendesak dicarikan solusi. Agar mereka kembali bisa membangun ekonomi keluarga sekaligus berperan meningkatkan produksi udang dan penerimaan devisa.

Pemerintah perlu memetakan tambak tradisional yang bisa didorong menerapkan inovasi dan teknologi tradisional plus (padat tebar 100 ribu ekor/Ha/ MT) dan semi intensif (padat tebar 300 ribu ekor/ha/MT).
Harapannya produktifitas bisa mencapai 2 hingga 6 ton/ha/musim tabur.

Kebijakan ini yang dilakukan oleh Equador, India, Vietnam dan Thailand. Mendorong penerapan inovasi-teknologi tradisional plus serta semi intensif pada tambak rakyat. Dengan skenario itu, Equador, India dan Vietnam menggeser posisi Indonesia sebagai salah satu produsen utama.

Inovasi dan teknologi berperan penting dalam revitalisasi ini. Setidaknya sejumlah faktor yang mesti dipedomani dan diimplementasikan secara konsisten dengan komitmen yang tinggi.

Perubahan cara pandang atau mindset para pembudidaya tradisional terhadap inovasi dan teknologi budidaya maju menjadi wajib. Proses edukasi dan transformasi menjadi salah satu bentuk intervensi yang mutlak dilakukan.

Halaman:

Tags

Terkini