• Selasa, 7 Februari 2023

Masyarakat Adat Bosanyo Bunta Unjuk Rasa di Dua Perusahaan Tambang Nikel

- Minggu, 6 Maret 2022 | 16:32 WIB
masyarakat adat Bosanyo Bunta, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, menggelar aksi unjuk rasa di dua perusahan tambang nikel yaitu PT. Koninis Fajar Mineral (KFM) dan  Aneka Nusantara Internasional (ANI
masyarakat adat Bosanyo Bunta, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, menggelar aksi unjuk rasa di dua perusahan tambang nikel yaitu PT. Koninis Fajar Mineral (KFM) dan Aneka Nusantara Internasional (ANI

METROSULTENG.com – Puluhan orang dari masyarakat adat Bosanyo Bunta, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, menggelar aksi unjuk rasa di dua perusahan tambang nikel yaitu PT. Koninis Fajar Mineral (KFM) dan Aneka Nusantara Internasional (ANI), Sabtu kemarin (5/3/2022). Demostrasi ini dipimpin langsung Bosanyo Bunta, Sukirlan Bukalang, dan para perwakilan pemangku adat atau tonggol-tonggol dari tiga kecamatan yakni, Kecamatan Bunta, Simpang Raya dan Nuhon,. Para pengunjuk rasa yang menggunakan pakaian adat ini menuntut agar PT. KFM menyelesaikan hak-hak masyarakat seperti, bantuan Corporate Social Responsibility (CSR), dan menyelesaian lahan-lahan yang belum di ganti rugi. Pendemo juga menuntut agar salah seorang warga di Desa Tutung Kecamatan Bunta yakni, Wasrin Peantok yang ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan Polres Banggai agar dilepaskan dan dibebaskan dari tuntutan hukum. Sebelumnya, Wasrin Peantok ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan atas dugaan tindak pidana sebagaimana diatur dalam pasal 160 KUHP dan atau Pasal 162 Undang-undang nomor 3 Tahun 2020 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara (Minerba). Dan yang bersangkutan sementara ini menjalani perpanjangan penahanan, sesuai surat perpanjangan penahanan (SP.Han) Nomor : PRINT-23 /P.2.11/Eku.1/02/2022 KEPALA KEJAKSAAN NEGERI BANGGAI selama 40 hari terhitung mulai tanggal 26 Februari 2022 hingga 6 April 2022, di Rutan Polres Banggai, sesuai Laporan Polisi Nomor : Sp.Kap/ 09 / II / 2022 / Reskrim. “Ia ditangkap dan ditahan karena diduga sebagai aktor intelektual dalam dugaan tindak pidana merintangi atau menganggu kegiatan usaha pertambangan dari pemegang IUP PT. KFM. Padahal, saat kejadian demonstrasi itu, diikuti sekitar 60 orang demostran. Mereka menuntut pembayaran lahan yang dibebaskan, termasuk Wasrin yang memperjuangkan lahannya yang belum diganti rugi,” ujar salah satu tokoh masyakat adat Desa Tuntung, melalui sambungan telepon seluler (Hp), Minggu (6/3/2022). Apalagi, kata sumber, dasar penangkapan dan penahanan yang dilakukan pihak penyidik Polres Banggai terhadap Wasrin Peantok, tidak lain merupakan persoalan sengketa keperdataan kepemilikan lahan masyarakat yang sudah berbulan-bulan lamanya dilakukan proses mediasi dan negosiasi harga, namun belum menemui titik temu antara masyarakat dan pihak perusahaan PT. Koninis Fajar Mineral (KFM). “Ini jelas bentuk kriminalisasi, jadi kami minta keadilan. Hentikan kriminalisasi terhadap masyarakat kami," kata dia. Tuntutan kepada perusahaan PT. KFM ini, sambungnya, merupakan pernyataan sikap dan akan dituangkan didalam bentuk perjanjian tertulis agar ada etikad baik dari pihak perusahaan PT. KFM untuk merealisasikan tuntutan pendemo. Dan perjanjian tersebut diberikan tenggang waktu selama seminggu (7 hari). “Apabila tidak ada respon atau etikad baik dari pihak perusahaan untuk memenuhi tuntutan kami, maka masyakat adat Bosanyo Bunta di tiga kecamatan akan menutup sementara aktivitas pertambangan,” tegasnya. Sementara dalam aksi demo di perusahaan PT. ANI, masyarakat adat Bosanyo Bunta juga menuntut agar segera selesaikan hak-hak masyarakat yang belum terselesaikan. Mereka pula meminta perusahaan bisa menyerap tenaga kerja lokal. Sebab hampir semua karyawan yang bekerja diperusahaan tersebut kebanyakan dari luar wilayah di tiga kecamatan yang ada. “Tenaga kerja lokal yang kami maksud warga asli Bunta, Simpang Raya dan Nuhon harus diberdayakan. Bukan hanya untuk dipekerjakan pada sector yang tidak membutuhkan keahlian (skill) atau buruh kasar saja. Tetapi mereka juga bisa diberikan pelatihan untuk peningkatan skill, sehingga kedepan pekerja lokal bisa mendapatkan posisi yang lebih baik di perusahaan,” terang sumber. Selain itu, masyarakat adat Bosanyo Bunta juga meminta aparat penegak hukum dalam hal ini Polsek Bunta untuk menyikapi persoalan karyawan perusahaan PT. ANI yang terindikasi menggunakan benda tajam (parang dan badik) untuk mengancam dan menakut-nakuti masyarakat. “Kami meminta instistusi kepolisian Polsek Bunta untuk segera menangkap karyawan PT. ANI yang diduga menggunakan parang dan badik untuk mengancam dan menakut-nakuti masyarakat,” imbaunya. Sumber menuturkan, untuk sementara masyarakat adat Bosanyo Bunta menutup aksen jalan yang tidak jauh dari wilayah jetty PT. ANI sampai para pelaku ditangkap. “Kalau pelaku sudah ditangkap, jalan tersebut akan kami buka dan bisa beraktivitas kembali,” tutupnya.(ARD)

Editor: Administrator

Terkini

X